Selasa, 26 Januari 2010




1. Kerja Keras

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi ; Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia

Senin, 25 Januari 2010

Belajar Bahasa Jepang Tahap 1

Bahasa Jepang susah ngak sih?

Pertanyaan tersebut di atas sering kali terlontar dari mulut teman-teman saya yang ingin belajar bahasa Jepang. Dan sudah tentu jawaban dari saya “gampang kok”. Tapi apa memang benar gampang??? Oke, saya akan coba berikan sedikit gambaran mengenai perbandingan antara bahasa Jepang dengan bahasa Asing lainnya terutama Bahasa Inggris.

Lafal Bahasa Jepang

Untuk bagian ini, saya yakin bahwa Bahasa Jepang jauh lebih mudah dibandingkan dengan Bahasa Inggris. Bahasa Jepang hanya mempunyai 5 vocal yang pengucapannya sama persis dengan bahasa Indonesia. Apa yang ditulis sama dengan apa yang dibaca (namun ada sedikit pengecualian untuk beberapa huruf).

Tata Bahasa Jepang

• Bahasa Jepang hanya mempunyai 2 tenses, yaitu bentuk present (termasuk future) dan bentuk lampau. Sedangkan Bahasa Inggris mempunyai jauh lebih banyak tenses.
• Kata benda dalam bahasa Jepang tidak mengenal single dan plural, berbeda dengan Bahasa Inggris yang menerapkan konsep tersebut.
• Konjugasi kata kerja dalam Bahasa Jepang memang agak sedikit sulit, namun apabila kamu tahu aturan perubahan tersebut, maka akan menjadi mudah, bahkan lebih mudah dari Bahasa Inggris.

Susunan Kalimat Bahasa Jepang

Menurut saya point inilah yang agak sedikit merepotkan kita. Mengapa? Susunan kalimat Bahasa Jepang menggunakan pola yang tidak lazim digunakan oleh bahasa lainnya. yaitu “Subjek – Objek – Predikat”. Kalau kata murid saya, susunan kalimat bahasa Jepang “jungkil balik”.

Huruf Jepang

Saya dan seluruh pembelajar Bahasa Jepang lainnya mungkin sependapat bahwa bagian inilah yang dianggap sebagai bagian yang paling sulit dari Bahasa Jepang. Seperti kita ketahui, bahasa Jepang mempunyai 3 jenis tulisan, yaitu hiragana, katakana dan kanji. Untuk huruf hiragana dan katakana mungkin tidak terlalu sulit untuk dipelajari, namun untuk bagian kanji akan sangat melelahkan dalam mempelajarinya. Bayangkan saja, kita harus dapat hafal sekitar 2,000 kanji untuk bisa membaca koran dengan lancar.

Kosakata

Menurut survey dari National Institute for Japanese Language, majalah Bahasa jepang menggunakan sekitar 30,000 kata, namun 90% dari kata tersebut dibentuk dari sekitar 10,000 kata. Jadi kosakata Bahasa Jepang yang perlu kamu ketahui ada sekitar 10,000 kata (Untuk tingkat mahir).

Jumlah tersebut memang jauh lebih banyak dibandingkan dengan Bahasa Inggris atau Spanyol yang hanya membutuhkan sekitar 3,000 kata untuk bisa menguasai bahasa tersebut, sedangkan Bahasa Perancis hanya membutuhkan 2,000 kata. Data tersebut berdasarkan Kotobano Chishiki Hyakka (the Encyclopedia of Words) yang diterbitkan tahun 1995.

Data-data berupa angka yang ada pada artikel ini didapat dari artikel yang dikeluarkan oleh “Japan Times”.

sumber : http://www.freejapanese.org/media.php?module=detailmateri&id=Pendahuluan%201

PERBEDAAN KIMONO DAN YUKATA

* Berbeda dengan Kimono yang sering disebut orang Jepang sebagai Gofuku atau Wafuku dan hanya dipakai pada kesempatan formal, Yukata dipakai untuk kesempatan santai seperti: berjalan-jalan melihat pesta kembang api, melihat festival musim panas (matsuri), atau menari di saat perayaan Obon.

* Berbeda dengan Kimono yang harganya sangat mahal hingga luar biasa mahal, harga Yukata umumnya terjangkau oleh semua orang.

* Berbeda dengan Kimono jadi yang hampir-hampir tidak ada toko yang mau menjualnya, di toko pakaian banyak dijual Yukata yang sudah jadi dengan beraneka ukuran dengan harga terjangkau

* Berbeda dengan Kimono yang menurut ukuran lebar lengannya dapat diketahui status seorang wanita (sudah menikah atau masih gadis), Yukata dapat dipakai oleh siapa saja tanpa mengenal status.

* Berbeda dengan mengenakan Kimono yang pemakainya diwajibkan memakai pakaian dalam sebanyak 2 lapis (Hadajuban dan Juban), perempuan yang memakai Yukata hanya diharuskan pakaian dalam lapis pertama (Hadajuban).

sumber : http://arros.multiply.com/journal/item/2

sumber berita yang lainya mengatakan :

YUKATA BUKAN KIMONO
Kimono sebagai pakaian tradisional Jepang tentunya sudah dikenal luas bahkan mendunia. Bentuknya yang unik dan khas menjadi daya tarik khusus. Sehingga tidak mengherankan jika kimono menjadi salah satu bagian budaya Jepang yang paling menarik bagi wisatawan asing. Lalu bagaimana dengan yukata? Mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui mengenai perbedaan kimono dengan yukata. Meski sebenarnya perbedaan yang terdapat di antara keduanya cukup mencolok.

?Yukata adalah salah satu jenis kimono yang terbuat dari katun dan hanya selapis tanpa kimono dalam sehingga sangat nyaman dipakai. Biasanya yukata dipakai oleh laki-laki dan perempuan sebagai pakaian kasual untuk kegiatan festival musim panas outdoor di petang hari, Seperti festival Hanabi (kembang api) dan festival Bon-Odori (tarian musim panas tradisional Jepang). Selain itu yukata juga dipakai sebagai pakaian tidur sepanjang tahun di musim apapun dan juga pakaian mandi.

?Obi (ikat pinggang-red) yang dipakai bisa Hanhaba-obi (obi lebar ?-red) atau Heko-obi (obi kain lunak-red). Dan untuk bentuk ikatan obi, yang biasa dipakai perempuan adalah Chou-Musubi (bentuk kupu-kupu-red) sedangkan untuk laki-laki adalah Kai-no-Kuchi (bentuk kerang-red). Untuk aksesorisnya, yukata biasanya dipakai dengan sepasang geta (sandal kayu Jepang-red)? lanjutnya. Berbeda dengan yukata, kimono terbuat dari bahan sutra dengan motif lebih rumit dan warna lebih banyak sehingga harganya juga sangat mahal, terdiri dari minimal tiga lapis dan hanya digunakan pada acara-acara formal.

sumber : http://www.arthazone.com/news_detail.php?nid=790

lain lagi dengan :

Pasti semua orang pasti banyak mengira bahwa yukata dan kimono itu sama. Namun kenyataanya yukata dan kimono itu beda sekali. Yukata adalah jenis kimono nonformal yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis yang dipakai untuk santai di musim panas. Yukata dibuat dari yang mudah dilewati di masuki angin, agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam dengan air panas di Jepang.

Di Jepang, musim panas berarti musim pesta kembang api dan matsuri (festival musim panas). Jika terlihat orang memakai Yukata, berarti tidak jauh dari tempat itu ada matsuri atau pesta kembang api. Yukata juga disediakan di kamar hotel, penginapan ala Jepang dan pemandian air panas (onsen).

YUKATA

YUKATA

Jika digunakan untuk tidur, Yukata bisa dikenakan begitu saja oleh pria dan wanita tanpa mengenakan pakaian dalam. Sedangkan jika Yukata dikenakan untuk keluar rumah, laki-laki biasanya tidak memakai kaus dalam, melainkan hanya mengenakan celana dalam atau celana pendek.

Biasanya para pemuda dan pemudi jepang menggunakan warna YUkata yang berbeda beda jika pemudi sangat suka dengan motif pink bunga sakura sedangkan para putra lebih cenderung ke pakaian seperti seorang samurai yang ada di anime.

Itu adalh sekilas penjelasan tentang Yukata jepang kalau ada salah tolong komentar yah nanti aku pasti pertimbangkan ide kalian okyeeee guys

Agustus 24, 2008
Kategori: artikel . . Penulis: estu
sumber : http://yumelyr.wordpress.com/2008/08/24/jepang-we-love-u-yukata/

JADI>>>>

dari 3 informasi yang aku kasih apa ada yang masih bingung? hehehe mungkin kalian bisa nyimpulkan sendiri apa itu "perbedaan yukata dan kimono" mungkin ada yang ingin protes, ato berpendapat lain tulis ajah di forum diskusi atau di wall grup ini.

^^ Arigatou Gozaimasu ....